
Dosen DPPM UMI Melatih Kader PKK Gattareng Olah Kelor Menjadi Produk Berkemasan Digital
Bulukumba, Sulawesi Selatan - Puluhan kader PKK Desa Gattareng, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, kini punya bekal baru: mengubah daun kelor yang selama ini hanya jadi sayur bening menjadi keripik gurih siap jual, lengkap dengan kemasan yang dirancang secara digital.
Tim pengabdi dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muslim Indonesia (UMI) turun langsung ke Desa Gattareng untuk mendampingi warga mengolah daun kelor menjadi camilan bernilai jual. Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pilar pengabdian kepada masyarakat.
Program bertajuk pendampingan pembuatan keripik kelor sehat dan desain kemasan berbasis teknologi digital ini digagas untuk menjawab satu persoalan klasik di banyak desa bahan pangan lokal yang melimpah namun belum diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Daun kelor, yang tumbuh subur di pekarangan warga Gattareng, selama ini lebih banyak dikonsumsi sebagai sayur harian ketimbang dijadikan produk olahan.
Rangkaian kegiatan berjalan bertahap dimulai dari pemaparan potensi gizi dan ekonomi daun kelor, dilanjutkan praktik produksi keripik, hingga pendampingan menyusun desain kemasan yang informatif dan menarik. Skema pendampingan bertahap ini dipilih agar keterampilan yang diperoleh peserta benar-benar bisa langsung dipraktikkan secara mandiri setelah kegiatan berakhir.
Tim Pelaksana
• Dosen Pendamping: Irawati, S.Kom., MT., MTA.; Dr. Lilis Nur Hayati, S.Kom., M.Eng., MTA.; Nur Asmi, SKM., M.Kes.
Tim pengabdi dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muslim Indonesia (UMI) turun langsung ke Desa Gattareng untuk mendampingi warga mengolah daun kelor menjadi camilan bernilai jual. Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pilar pengabdian kepada masyarakat.
Program bertajuk pendampingan pembuatan keripik kelor sehat dan desain kemasan berbasis teknologi digital ini digagas untuk menjawab satu persoalan klasik di banyak desa bahan pangan lokal yang melimpah namun belum diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Daun kelor, yang tumbuh subur di pekarangan warga Gattareng, selama ini lebih banyak dikonsumsi sebagai sayur harian ketimbang dijadikan produk olahan.
"Kegiatan ini 7 Agustus 2026 diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi kader PKK untuk mengembangkan produk olahan berbasis daun kelor yang berkualitas, memiliki identitas produk yang baik, dan mampu meningkatkan nilai tambah serta pendapatan masyarakat desa," ujar Ketua Tim Pengabdian.
Materi pelatihan dirancang tidak berhenti di dapur. Setelah peserta praktik langsung membuat keripik kelor, tim pengabdi melanjutkan sesi pendampingan desain kemasan dengan memanfaatkan perangkat digital mulai dari pemilihan tampilan visual hingga informasi produk yang perlu dicantumkan pada label. Pendekatan dua sisi ini, produksi dan kemasan, dipilih karena keduanya sama-sama menentukan daya saing produk UMKM di pasaran.
Bahan pangan lokal yang melimpah butuh lebih dari sekadar diolah butuh identitas produk dan kemasan yang mampu bersaing di pasar.Rangkaian kegiatan berjalan bertahap dimulai dari pemaparan potensi gizi dan ekonomi daun kelor, dilanjutkan praktik produksi keripik, hingga pendampingan menyusun desain kemasan yang informatif dan menarik. Skema pendampingan bertahap ini dipilih agar keterampilan yang diperoleh peserta benar-benar bisa langsung dipraktikkan secara mandiri setelah kegiatan berakhir.
Tim Pelaksana
• Dosen Pendamping: Irawati, S.Kom., MT., MTA.; Dr. Lilis Nur Hayati, S.Kom., M.Eng., MTA.; Nur Asmi, SKM., M.Kes.
• Mahasiswa Pendamping: Kharisma Suchy, Moh. Afif Riva Wiratama, Nining Eka Putri
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini sekaligus menjadi wujud pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat, di mana teori yang diperoleh di bangku kuliah langsung diuji dan diterapkan dalam konteks nyata di lapangan.
Bagi kader PKK Desa Gattareng, pelatihan ini membuka peluang usaha baru yang bersumber dari halaman rumah sendiri. Dengan produk yang lebih berkualitas dan kemasan yang lebih profesional, keripik kelor buatan mereka diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas, tidak lagi terbatas pada pasar lokal desa.
Tim pengabdi berharap program ini menjadi titik tolak tumbuhnya semangat wirausaha di kalangan kader PKK, sekaligus mendorong lahirnya produk unggulan desa yang berkelanjutan.
Inovasi pada sisi produksi maupun pengemasan digital diyakini akan meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Gattareng.
Bagi kader PKK Desa Gattareng, pelatihan ini membuka peluang usaha baru yang bersumber dari halaman rumah sendiri. Dengan produk yang lebih berkualitas dan kemasan yang lebih profesional, keripik kelor buatan mereka diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas, tidak lagi terbatas pada pasar lokal desa.
Tim pengabdi berharap program ini menjadi titik tolak tumbuhnya semangat wirausaha di kalangan kader PKK, sekaligus mendorong lahirnya produk unggulan desa yang berkelanjutan.
Inovasi pada sisi produksi maupun pengemasan digital diyakini akan meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Gattareng.



