
EDUKASI DAN PELATIHAN DETEKSI BAHAN TAMBAHAN PANGAN (PENGAWET, PEMANIS, PEWARNA) BERBAHAYA DALAM MAKANAN DAN MINUMAN KEPADA KELOMPOK PKK DESA BORISALLO
Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) Universitas Muslim Indonesia kembali melaksanakan program pengabdian sebagai wujud komitmen perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Kali ini, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI ditugaskan untuk memberikan edukasi kepada Kelompok PKK Desa Borisallo, Kabupaten Gowa. Kegiatan tersebut mengusung tema penting, yakni deteksi bahan tambahan pangan (BTP) berbahaya yang masih sering ditemukan pada produk makanan sehari-hari.
Program ini dilaksanakan pada 19 November 2025 dan dipimpin oleh dua narasumber berpengalaman, yaitu Bapak Nasruddin Syam, SKM., M.Kes., serta Ibu Nurlina Akbar, S.St., M.Kes. Keduanya dikenal aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat serta memiliki kompetensi di bidang kesehatan lingkungan dan keamanan pangan. Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada ibu-ibu PKK mengenai keamanan pangan yang aman dan sehat.
Pelatihan tersebut fokus pada materi deteksi berbagai jenis bahan tambahan pangan berbahaya, seperti boraks, formalin, rhodamin B, serta pemanis sintetis yang umum ditemukan dalam makanan. Narasumber menjelaskan metode identifikasi melalui pengamatan organoleptik, seperti warna, aroma, dan tekstur, serta penggunaan uji rumah tangga sederhana yang dapat dipraktikkan langsung oleh masyarakat.
Dalam sesi penyampaian materi, para peserta terlihat sangat antusias mengikuti penjelasan demi penjelasan yang disampaikan oleh pemateri. Banyak di antara mereka yang baru mengetahui bahwa beberapa ciri makanan berbahaya dapat dikenali tanpa harus menggunakan alat laboratorium, sehingga keterampilan tersebut dinilai sangat bermanfaat bagi ibu rumah tangga.
Selain materi teori, peserta juga diberikan kesempatan untuk melakukan praktik langsung dengan menguji beberapa sampel makanan yang telah disiapkan oleh tim LPKM. Melalui kegiatan praktik ini, para ibu PKK dapat memahami secara nyata bagaimana proses identifikasi bahan berbahaya dilakukan dan bagaimana membedakan makanan aman dari yang berpotensi merugikan kesehatan.
Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, peserta mengangkat berbagai isu yang sering mereka temui di lingkungan sekitar, termasuk kekhawatiran terhadap jajanan anak sekolah. Para pemateri menegaskan bahwa kasus penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya masih terjadi karena kurangnya pengawasan dan rendahnya kesadaran konsumen, sehingga kemampuan masyarakat dalam mendeteksi secara mandiri menjadi sangat penting.
Ketua PKK Desa Borisallo menyampaikan apresiasi atas pelatihan yang diberikan dan berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan. Ia menilai edukasi mengenai keamanan pangan merupakan kebutuhan mendesak, mengingat masih banyaknya produk makanan rumahan dan jajanan pasar yang tidak melalui proses pengawasan ketat.
LPKM UMI juga menekankan bahwa kegiatan pengabdian seperti ini merupakan upaya nyata perguruan tinggi dalam membantu pemerintah meningkatkan literasi masyarakat terkait kesehatan. Melibatkan komunitas perempuan seperti PKK dianggap strategis karena mereka berperan langsung dalam menyediakan makanan untuk keluarga.
Di akhir kegiatan, panitia membagikan masker kesehatan kepada seluruh peserta sebagai bentuk kepedulian terhadap upaya perlindungan diri dalam aktivitas sehari-hari. Sementara itu, untuk Kelompok PKK, diberikan pula alat penunjang deteksi alami bahan tambahan pangan yang dapat digunakan dalam kegiatan pemantauan mandiri di desa.
Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar pengetahuan yang telah diberikan dapat diterapkan secara konsisten oleh peserta dalam kehidupan sehari-hari. LPKM UMI berencana melakukan pendampingan lanjutan untuk memastikan bahwa masyarakat Desa Borisallo mampu menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan pangan yang aman dan bebas dari bahan berbahaya.



