
Integrasi Konsep Arsitektur Vernakular dan Infrastruktur Sanitasi dalam Pelatihan Rumah Sehat untuk Masyarakat Desa Saotengnga Kec.Sinjai Tengah Kab.Sinjai
Sinjai, Sulawesi Selatan – Sebuah terobosan menarik tengah berlangsung di Desa Saotengnga, Kecamatan Sinjai Tengah. Universitas Muslim Indonesia (UMI) melalui Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPKM) menghadirkan solusi cerdas yang membuktikan bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan tradisi.
Inisiatif bertajuk “Integrasi Konsep Arsitektur Vernakular dan Infrastruktur Sanitasi” ini merupakan jawaban atas dilema yang dihadapi banyak desa di Sulawesi Selatan: bagaimana mempertahankan kearifan lokal sambil memenuhi kebutuhan kesehatan lingkungan yang layak.
Tim pengabdian yang dipimpin Ar. Ir. Andi Muhammad Ikhsan, ST., M.Si. dari Program Studi Arsitektur dan Ir. Rizki Ayu Saraswati, ST., M.T. dari Teknik Sipil, bersama dua mahasiswa Fakultas Teknik UMI, membawa perspektif baru kepada warga Saotengnga. Program ini bagian dari LPKM UMI yang mengutamakan penerapan riset akademis untuk kebermanfaatan nyata.
Persoalan yang dihadapi Desa Saotengnga mencerminkan tantangan pembangunan di banyak wilayah pedesaan. Rumah panggung khas Bugis-Makassar dengan sistem ventilasi alaminya perlahan digantikan konstruksi beton modern. Sementara itu, infrastruktur dasar seperti septic tank yang layak, sumber air bersih, dan sistem drainase yang memadai masih menjadi kebutuhan mendesak bagi sebagian besar penduduk.
“Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi dan kesehatan bukan dua hal yang saling meniadakan. Keduanya bisa diharmonisasikan dengan pendekatan yang tepat,” ungkap Rizki Ayu Saraswati saat membuka sesi pelatihan yang dihadiri warga, tokoh masyarakat, dan perangkat desa.
Sesi pelatihan di balai desa berlangsung penuh kehangatan dan partisipasi aktif. Warga tidak segan mengajukan pertanyaan detail tentang bagaimana menerapkan konsep-konsep yang dipaparkan. Diskusi mengalir dari pembahasan arah hadap bangunan yang optimal, seleksi material lokal yang awet, hingga teknik penempatan fasilitas sanitasi yang efektif dan aman. Materi yang disampaikan menyoroti keunggulan arsitektur tradisional. Rumah panggung, misalnya, secara natural sudah memiliki keunggulan sanitasi berkat elevasinya yang mengangkat bangunan dari permukaan tanah. Orientasi bangunan yang mengikuti arah angin mampu menciptakan sirkulasi udara optimal. Semua ini adalah pengetahuan leluhur yang relevan hingga kini.
Tim juga membagikan panduan praktis membangun septic tank yang ramah lingkungan, serta pentingnya merancang sistem drainase komunal untuk mencegah genangan air yang dapat menjadi sumber penyakit.
“Nenek moyang kita sudah memahami ilmu bangunan dengan sangat baik. Rumah panggung bukan hanya soal warisan budaya, tetapi respons cerdas terhadap kondisi iklim tropis basah kita. Yang diperlukan hanyalah menyempurnakannya dengan sistem sanitasi yang sesuai standar kesehatan masa kini,” terang Rizki Ayu Saraswati.
Kepala Desa Saotengnga, Mappima Noma, S.Pd mengapresiasi tinggi program ini dan mengharapkan kolaborasi dengan UMI dapat berlanjut untuk mewujudkan kawasan permukiman sehat yang tidak kehilangan karakter budayanya.
Inisiatif ini lebih dari sekadar penyuluhan. Ia mewakili dedikasi UMI dalam memberikan solusi aplikatif bagi permasalahan riil di tengah masyarakat. Program ini juga mendukung pencapaian IKU 2 dan IKU 5, dengan melibatkan mahasiswa dalam kegiatan bermakna sosial, sekaligus mentransformasikan hasil riset akademis menjadi manfaat konkret bagi publik.



