
Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat KEMENDIKTISAINTEK : Kolaborasi Lintas Disiplin Ilmu Hadirkan Solusi Desalinasi Sederhana Air Payau Menjadi Air Tawar Wujudkan Kemandirian Akses Air Bersih Masyarakat Desa Punaga
Takalar — Upaya meningkatkan ketersediaan air tawar bagi masyarakat di wilayah pesisir terus dilakukan melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu dan lintas perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPKM) Universitas Muslim Indonesia (UMI), dosen dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan Politeknik Muhammadiyah Makassar, serta mitra masyarakat Kelompok Tani Sipakatutui di Desa Punaga, Kabupaten Takalar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) dengan judul “Pemberdayaan Kelompok Tani di Wilayah Pesisir Desa Punaga melalui Penerapan Teknologi Tepat Guna Desalinasi Sederhana untuk Penyediaan Air Tawar di Desa Punaga Kabupaten Takalar.”
Desa Punaga sebagai salah satu wilayah pesisir memiliki potensi sumber daya air yang cukup besar, namun ketersediaan air tawar masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat. Kondisi lingkungan pesisir menyebabkan sebagian sumber air berpotensi memiliki kadar garam atau salinitas yang cukup tinggi sehingga pemanfaatannya untuk kebutuhan masyarakat maupun kegiatan pertanian menjadi terbatas.
Menjawab permasalahan tersebut, tim pengabdian menghadirkan teknologi tepat guna berupa sistem desalinasi sederhana yang dirancang dengan mempertimbangkan kondisi, kebutuhan, serta kemampuan masyarakat setempat. Teknologi ini diharapkan menjadi salah satu alternatif dalam mengolah air dengan kadar garam tinggi menjadi air tawar yang lebih layak dimanfaatkan.
Keunikan kegiatan ini terletak pada kolaborasi lintas disiplin ilmu, yaitu Teknik Arsitektur, Teknik Sipil, dan Kesehatan Lingkungan. Masing-masing bidang memberikan kontribusi sesuai kompetensinya. Teknik Arsitektur berperan dalam aspek perancangan dan penyesuaian teknologi dengan kondisi lingkungan serta kebutuhan pengguna. Teknik Sipil berkontribusi dalam aspek konstruksi, instalasi, dan keandalan sistem, sedangkan bidang Kesehatan Lingkungan berfokus pada aspek kualitas air, kesehatan masyarakat, sanitasi, serta keamanan air hasil pengolahan. Sinergi ini menjadi bentuk nyata pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam menghadirkan inovasi dan teknologi yang dapat diterapkan serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) dengan judul “Pemberdayaan Kelompok Tani di Wilayah Pesisir Desa Punaga melalui Penerapan Teknologi Tepat Guna Desalinasi Sederhana untuk Penyediaan Air Tawar di Desa Punaga Kabupaten Takalar.”
Desa Punaga sebagai salah satu wilayah pesisir memiliki potensi sumber daya air yang cukup besar, namun ketersediaan air tawar masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat. Kondisi lingkungan pesisir menyebabkan sebagian sumber air berpotensi memiliki kadar garam atau salinitas yang cukup tinggi sehingga pemanfaatannya untuk kebutuhan masyarakat maupun kegiatan pertanian menjadi terbatas.
Menjawab permasalahan tersebut, tim pengabdian menghadirkan teknologi tepat guna berupa sistem desalinasi sederhana yang dirancang dengan mempertimbangkan kondisi, kebutuhan, serta kemampuan masyarakat setempat. Teknologi ini diharapkan menjadi salah satu alternatif dalam mengolah air dengan kadar garam tinggi menjadi air tawar yang lebih layak dimanfaatkan.
Keunikan kegiatan ini terletak pada kolaborasi lintas disiplin ilmu, yaitu Teknik Arsitektur, Teknik Sipil, dan Kesehatan Lingkungan. Masing-masing bidang memberikan kontribusi sesuai kompetensinya. Teknik Arsitektur berperan dalam aspek perancangan dan penyesuaian teknologi dengan kondisi lingkungan serta kebutuhan pengguna. Teknik Sipil berkontribusi dalam aspek konstruksi, instalasi, dan keandalan sistem, sedangkan bidang Kesehatan Lingkungan berfokus pada aspek kualitas air, kesehatan masyarakat, sanitasi, serta keamanan air hasil pengolahan. Sinergi ini menjadi bentuk nyata pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam menghadirkan inovasi dan teknologi yang dapat diterapkan serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, Kelompok Tani Sipakatutui tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai mitra aktif dalam proses pemberdayaan. Masyarakat diberikan pemahaman mengenai permasalahan kualitas air, prinsip kerja desalinasi, pengoperasian teknologi, pemeliharaan sistem, serta pentingnya pemantauan kualitas air secara berkala.
Pendekatan pemberdayaan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengoperasikan dan memelihara teknologi secara mandiri. Dengan demikian, penerapan teknologi desalinasi tidak berhenti pada penyediaan alat, tetapi dapat menjadi solusi berkelanjutan yang mampu dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat sesuai kebutuhan.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa penyelesaian permasalahan air di wilayah pesisir membutuhkan pendekatan multidisiplin. Permasalahan air memiliki keterkaitan erat dengan aspek lingkungan, kesehatan, konstruksi, tata ruang, sosial, dan ekonomi. Oleh karena itu, kolaborasi lintas bidang keilmuan dan perguruan tinggi menjadi strategi penting untuk menghasilkan solusi yang lebih komprehensif dan aplikatif. Melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) ini, tim berharap penerapan teknologi desalinasi sederhana dapat membantu meningkatkan akses masyarakat terhadap air tawar sekaligus mendukung aktivitas kelompok tani di Desa Punaga. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat pesisir berbasis teknologi tepat guna yang dapat dikembangkan dan direplikasi pada wilayah lain yang menghadapi permasalahan ketersediaan air tawar.
Sinergi antara LPKM UMI, Universitas Muslim Indonesia, Politeknik Muhammadiyah Makassar, dan Kelompok Tani Sipakatutui menjadi bukti nyata bahwa perguruan tinggi dapat hadir dan berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat. Melalui kolaborasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat, inovasi desalinasi sederhana diharapkan mampu memberikan dampak nyata menuju masyarakat pesisir yang lebih sehat, produktif, dan mandiri dalam penyediaan air tawar.
Ir. Arinda Wahyuni, ST, M.Ars (Dosen Teknik Arsitektur UMI) sebagai Ketua TIM PENGABDIAN mengatakan, “ saya harap dengan adanya program ini,desa punaga dapat mendapatkan air tawar dan air bersih dan sehat yang layk dikonsumsi dan digunakan sehari-hari,tidak hanya air bersih saya harap juga dengan adanya TIM Pengelola dari Kelompok Tani SIPAKATUTUI 1 air bersih dapat terdistribusi dan meningkatkan ekonomi di desa punaga serta alat Desalinasi Sederhana ini dapat dirawat dengan baik”,ucapnya.
Ir. Rizki Ayu Saraswati, ST, MT (Dosen Teknik Sipil UMI) juga mengatakan,” Pelatihan K3 dan manajemen operasional sangat penting dalam program ini,maka dari itu kami dari tim berharap dengan adanya pelatihan ini bisa menimalisirkan kerusakan dan kecelakaan yang akan terjadi pada tim pengelola atau masyarakat”,ucapnya. Sartika Fathir Rahman, SKM, M.KL (Dosen Kesehatan Lingkungan Politeknik Muhammadiyah Makassar) juga menyoroti kondisi dan kualitas air,” kondisi dan kualitas air di desa punaga adalah air payau,apabila dikonsumsi dapat berdampak pada kesehatan masyarakat,dengan adanya program ini kami harap hal-hal seperti itu dapat kami atasi dengan alat desalinasi sederhana ini”,ucapnya. Program ini juga melibatkan 2 mahasiswa Universitas Muslim Indonesia untuk memberikan pengalaman dan praktik nyata dalam mengabdi dalam masyarakat.
Kepala Desa juga mengucapkan terimakasih saat pelatihan K3 dan manajemen operasiona ,” saya ucapkan terimakasih kepada lembaga-lembaga serta dosen-dosen yang telah mengadakan dan memilih desa kami sebagai bentuk untuk menyelasaikan masalah dalam masyarakat dalam ketersediaan air bersih dan tawar dalam bentuk program pengabdian kepada masyarakat,saya harap dengan adanya alat ini desa kami lebih sejahtera dan dapat memenuhi kebutuhan air bersih”,ucapnya.
Pendekatan pemberdayaan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengoperasikan dan memelihara teknologi secara mandiri. Dengan demikian, penerapan teknologi desalinasi tidak berhenti pada penyediaan alat, tetapi dapat menjadi solusi berkelanjutan yang mampu dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat sesuai kebutuhan.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa penyelesaian permasalahan air di wilayah pesisir membutuhkan pendekatan multidisiplin. Permasalahan air memiliki keterkaitan erat dengan aspek lingkungan, kesehatan, konstruksi, tata ruang, sosial, dan ekonomi. Oleh karena itu, kolaborasi lintas bidang keilmuan dan perguruan tinggi menjadi strategi penting untuk menghasilkan solusi yang lebih komprehensif dan aplikatif. Melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) ini, tim berharap penerapan teknologi desalinasi sederhana dapat membantu meningkatkan akses masyarakat terhadap air tawar sekaligus mendukung aktivitas kelompok tani di Desa Punaga. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat pesisir berbasis teknologi tepat guna yang dapat dikembangkan dan direplikasi pada wilayah lain yang menghadapi permasalahan ketersediaan air tawar.
Sinergi antara LPKM UMI, Universitas Muslim Indonesia, Politeknik Muhammadiyah Makassar, dan Kelompok Tani Sipakatutui menjadi bukti nyata bahwa perguruan tinggi dapat hadir dan berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat. Melalui kolaborasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat, inovasi desalinasi sederhana diharapkan mampu memberikan dampak nyata menuju masyarakat pesisir yang lebih sehat, produktif, dan mandiri dalam penyediaan air tawar.
Ir. Arinda Wahyuni, ST, M.Ars (Dosen Teknik Arsitektur UMI) sebagai Ketua TIM PENGABDIAN mengatakan, “ saya harap dengan adanya program ini,desa punaga dapat mendapatkan air tawar dan air bersih dan sehat yang layk dikonsumsi dan digunakan sehari-hari,tidak hanya air bersih saya harap juga dengan adanya TIM Pengelola dari Kelompok Tani SIPAKATUTUI 1 air bersih dapat terdistribusi dan meningkatkan ekonomi di desa punaga serta alat Desalinasi Sederhana ini dapat dirawat dengan baik”,ucapnya.
Ir. Rizki Ayu Saraswati, ST, MT (Dosen Teknik Sipil UMI) juga mengatakan,” Pelatihan K3 dan manajemen operasional sangat penting dalam program ini,maka dari itu kami dari tim berharap dengan adanya pelatihan ini bisa menimalisirkan kerusakan dan kecelakaan yang akan terjadi pada tim pengelola atau masyarakat”,ucapnya. Sartika Fathir Rahman, SKM, M.KL (Dosen Kesehatan Lingkungan Politeknik Muhammadiyah Makassar) juga menyoroti kondisi dan kualitas air,” kondisi dan kualitas air di desa punaga adalah air payau,apabila dikonsumsi dapat berdampak pada kesehatan masyarakat,dengan adanya program ini kami harap hal-hal seperti itu dapat kami atasi dengan alat desalinasi sederhana ini”,ucapnya. Program ini juga melibatkan 2 mahasiswa Universitas Muslim Indonesia untuk memberikan pengalaman dan praktik nyata dalam mengabdi dalam masyarakat.
Kepala Desa juga mengucapkan terimakasih saat pelatihan K3 dan manajemen operasiona ,” saya ucapkan terimakasih kepada lembaga-lembaga serta dosen-dosen yang telah mengadakan dan memilih desa kami sebagai bentuk untuk menyelasaikan masalah dalam masyarakat dalam ketersediaan air bersih dan tawar dalam bentuk program pengabdian kepada masyarakat,saya harap dengan adanya alat ini desa kami lebih sejahtera dan dapat memenuhi kebutuhan air bersih”,ucapnya.



