
Warga Desa Jangan-Jangan Barru Kembangkan Herbal JaSeKeh Bersama Dosen UMI–Unhas
BARRU – Kolaborasi dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan Universitas Hasanuddin (Unhas) mendorong warga Desa Jangan-Jangan, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, mengembangkan potensi tanaman lokal menjadi produk herbal bernilai kesehatan sekaligus ekonomi.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat, warga dibekali keterampilan mengolah jahe, serai, dan cengkeh menjadi Kapsul Herbal JaSeKeh. Program tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi herbal, tetapi juga mengintegrasikan edukasi pencegahan penyakit tidak menular, peningkatan keterampilan kader, penguatan budidaya tanaman, pengelolaan keuangan berbasis teknologi informasi, hingga pemasaran produk.
Ketua tim pengabdian, Prof. Masriadi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI, mengatakan program tersebut dirancang untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yakni meningkatnya risiko penyakit tidak menular di masyarakat dan perlunya penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.
Menurutnya, Diabetes Melitus, Hipertensi, dan Kolesterol merupakan masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian serius, termasuk melalui peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko, deteksi dini, dan penerapan pola hidup sehat.
“Kami ingin kegiatan pengabdian ini tidak berhenti pada pemberian penyuluhan. Masyarakat harus memperoleh keterampilan yang dapat digunakan secara berkelanjutan, baik untuk menjaga kesehatan maupun meningkatkan produktivitas ekonomi keluarga,” ujar Prof. Masriadi.
Dalam kegiatan tersebut, Kader Kesehatan mendapatkan edukasi mengenai pencegahan Diabetes Melitus, Hipertensi, dan Kolesterol. Mereka juga dilatih melakukan pemeriksaan sederhana, termasuk pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan kadar gula darah.
Prof. Ramlah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMI memberikan pendampingan mengenai pengelolaan dan pembukuan keuangan berbasis teknologi informasi. Para mitra diperkenalkan pada sistem pencatatan yang lebih terstruktur, mulai dari pencatatan jumlah produksi, stok produk, biaya operasional, hasil penjualan hingga keuntungan usaha.
Antusiasme Kader Kesehatan dan Kader Tani terlihat dalam berbagai sesi kegiatan. Peserta tidak hanya mengikuti pemaparan materi, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah, proses pembuatan Kapsul JaSeKeh, pengelolaan pembukuan berbasis teknologi informasi, serta teknik penanaman tanaman herbal.
Program ini diarahkan agar Desa Jangan-Jangan tidak hanya menjadi lokasi pelaksanaan pengabdian, tetapi berkembang menjadi desa yang mampu mengoptimalkan potensi tanaman herbal secara berkelanjutan. Integrasi antara kesehatan, pertanian, teknologi, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat menjadi pendekatan utama yang diterapkan tim UMI–Unhas.
“Target akhirnya adalah kemandirian. Masyarakat memiliki pengetahuan kesehatan, mampu memanfaatkan potensi pertanian, memiliki keterampilan produksi, memahami pengelolaan usaha, dan memperoleh manfaat ekonomi dari sumber daya yang mereka miliki,” ujarnya.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah memasuki tahun ketiga tersebut mendapatkan dukungan pendanaan hibah dari kementerian yang membidangi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi serta dukungan penuh Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPKM) Universitas Muslim Indonesia.
Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, kader, dan masyarakat ini diharapkan menjadi contoh bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menghasilkan perubahan yang terukur, bukan hanya dalam peningkatan pengetahuan, tetapi juga dalam kemandirian kesehatan dan penguatan ekonomi masyarakat desa.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat, warga dibekali keterampilan mengolah jahe, serai, dan cengkeh menjadi Kapsul Herbal JaSeKeh. Program tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi herbal, tetapi juga mengintegrasikan edukasi pencegahan penyakit tidak menular, peningkatan keterampilan kader, penguatan budidaya tanaman, pengelolaan keuangan berbasis teknologi informasi, hingga pemasaran produk.
Sebanyak 40 orang yang tergabung dalam Kader Kesehatan dan Kader Tani menjadi mitra utama program. Selama kurang lebih enam bulan, mereka mengikuti berbagai kegiatan pelatihan dan pendampingan bersama tim dosen UMI dan Unhas dengan dukungan pemerintah setempat.
Dari Pencegahan Penyakit hingga Kemandirian Desa
Menurutnya, Diabetes Melitus, Hipertensi, dan Kolesterol merupakan masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian serius, termasuk melalui peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko, deteksi dini, dan penerapan pola hidup sehat.
“Kami ingin kegiatan pengabdian ini tidak berhenti pada pemberian penyuluhan. Masyarakat harus memperoleh keterampilan yang dapat digunakan secara berkelanjutan, baik untuk menjaga kesehatan maupun meningkatkan produktivitas ekonomi keluarga,” ujar Prof. Masriadi.
Dalam kegiatan tersebut, Kader Kesehatan mendapatkan edukasi mengenai pencegahan Diabetes Melitus, Hipertensi, dan Kolesterol. Mereka juga dilatih melakukan pemeriksaan sederhana, termasuk pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan kadar gula darah.
Selain itu, warga mendapatkan pendampingan mengenai pemanfaatan jahe, serai, dan cengkeh serta proses pembuatan Kapsul Herbal JaSeKeh sesuai prosedur yang telah disiapkan oleh tim. Pemanfaatan produk herbal tetap diarahkan dengan memperhatikan aspek keamanan, mutu, serta ketentuan perizinan yang berlaku.
Jahe, Serai, dan Cengkeh Diolah Menjadi Produk Bernilai Tambah
Salah satu fokus program adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap hasil pertanian lokal. Jahe, serai, dan cengkeh yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur diarahkan agar memiliki nilai tambah melalui proses pengolahan yang lebih baik. Pendampingan dilakukan mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, pembuatan kapsul, pengemasan hingga pengembangan strategi pemasaran.
Upaya tersebut diharapkan menciptakan rantai produksi berbasis desa, mulai dari budidaya tanaman, penyediaan bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran.
Pembukuan Digital untuk Tingkatkan Kinerja Usaha
Digitalisasi pembukuan tersebut diharapkan membantu kelompok mitra mengetahui perkembangan usaha secara lebih akurat sekaligus menjadi dasar dalam mengambil keputusan bisnis. Tim pengabdian menargetkan penguatan sistem pengelolaan dan pemasaran dapat mendorong peningkatan omzet kelompok mitra secara bertahap.
Kemasan Produk Dibuat Lebih Menarik
Dr. dr. Syahrijuita, M.Si dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin memberikan pendampingan dalam pengembangan dan modifikasi kemasan Kapsul JaSeKeh agar memiliki tampilan yang lebih menarik dan informatif. Ia juga terlibat dalam peningkatan keterampilan Kader Kesehatan untuk melakukan pemeriksaan kadar gula darah dan tekanan darah secara mandiri.
Pengembangan kemasan menjadi bagian penting karena produk yang dihasilkan masyarakat diharapkan tidak hanya memiliki kualitas yang baik, tetapi juga mampu bersaing ketika memasuki pasar yang lebih luas. Tim terus mendorong pemenuhan berbagai aspek standardisasi dan legalitas produk sesuai ketentuan yang berlaku.
Kader Tani Perkuat Ketersediaan Bahan Baku
Prof. Netty dari Fakultas Pertanian UMI memberikan pelatihan mengenai pemilihan bibit unggul dan teknik budidaya jahe, serai, serta cengkeh. Pendampingan tersebut diarahkan untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan bahan baku yang nantinya digunakan dalam pengembangan produk JaSeKeh.
Mahasiswa UMI turut dilibatkan dalam kegiatan ini dengan mendampingi masyarakat selama proses pelatihan dan implementasi di lapangan.
Kader Antusias Ikuti Pelatihan
“Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Mereka aktif bertanya dan langsung mempraktikkan keterampilan yang diberikan. Ini menjadi modal penting agar program dapat terus berjalan meskipun kegiatan pendampingan nantinya telah selesai,” ungkap Prof. Masriadi.
Kapsul JaSeKeh Tembus 3.000 Botol
Dampak program mulai terlihat dari kemampuan kelompok mitra menghasilkan dan memasarkan produk. Hingga saat ini, Kapsul Herbal JaSeKeh yang dikembangkan bersama masyarakat Desa Jangan-Jangan telah mencapai penjualan sekitar 3.000 botol, dengan masing-masing kemasan berisi 60 kapsul.
Capaian tersebut menjadi indikator berkembangnya keterampilan produksi sekaligus penerimaan masyarakat terhadap produk yang dikembangkan. Pengembangan produk ke pasar yang lebih luas tetap dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan standardisasi, keamanan, mutu, legalitas, dan perizinan sesuai regulasi yang berlaku.
Selain dampak ekonomi, kemampuan masyarakat dalam melakukan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular juga mengalami peningkatan. Kader diharapkan dapat menjadi penggerak edukasi kesehatan di lingkungan masing-masing.
Menuju Desa Herbal yang Mandiri dan Produktif
“Target akhirnya adalah kemandirian. Masyarakat memiliki pengetahuan kesehatan, mampu memanfaatkan potensi pertanian, memiliki keterampilan produksi, memahami pengelolaan usaha, dan memperoleh manfaat ekonomi dari sumber daya yang mereka miliki,” ujarnya.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah memasuki tahun ketiga tersebut mendapatkan dukungan pendanaan hibah dari kementerian yang membidangi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi serta dukungan penuh Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPKM) Universitas Muslim Indonesia.
Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, kader, dan masyarakat ini diharapkan menjadi contoh bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menghasilkan perubahan yang terukur, bukan hanya dalam peningkatan pengetahuan, tetapi juga dalam kemandirian kesehatan dan penguatan ekonomi masyarakat desa.



