lpkm@umi.ac.id ماكاسار، جنوب سولاويزي
LPkM UMI — Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat
الصفحة الرئيسية / أخبار / من لونتار إلى الاقتصاد الإبداعي، تشجع PISN الابتكار في الفنون الحرفية في قرية سواكونج تاكالار
Dari Lontar ke Ekonomi Kreatif, PISN Dorong Inovasi Seni Kriya di Desa Sawakong Takalar

من لونتار إلى الاقتصاد الإبداعي، تشجع PISN الابتكار في الفنون الحرفية في قرية سواكونج تاكالار

تاكالار — بدأ تطوير ألياف سعف النخيل، التي كانت لفترة طويلة جزءًا من المهارات التقليدية لسكان قرية سواكونج، في مقاطعة تاكالار، باستخدام تقنية
الفن والتصميم والاقتصاد الإبداعي.
تم تنفيذ هذا الجهد من خلال برنامج الأرخبيل للابتكار في الفنون (PISN) من خلال نشاط "تطوير ابتكار الفنون الحرفية المنسوجة من ألياف سعف النخيل استنادًا إلى مجتمع الاقتصاد الإبداعي في قرية سواكونج، مقاطعة تاكالار".
يتم تنفيذ البرنامج بالتعاون مع مجتمع Karya Insani Palm Leaf Weaving Craftsman لتعزيز استدامة الفنون الحرفية المحلية مع تحسين الجودة والقيمة المضافة للمنتجات التي ينتجها المجتمع.
خلال هذا الوقت، تم تناقل مهارة نسج ألياف سعف النخيل من جيل إلى جيل. ومع ذلك، فإن التطورات الحالية تمثل تحديات جديدة، تتراوح من الابتكار المحدود في التصميم، وجودة المنتج غير المتسقة والتشطيب، إلى التسويق الذي لا يزال يقتصر على البيئة المحلية.
مشكلة أخرى هي التجديد. ولا تزال الحرفيات البالغات يهيمن على أنشطة النسيج، في حين أن مشاركة جيل الشباب لم تتطور على النحو الأمثل. وقال الدكتور إير: "لا يهدف هذا البرنامج إلى استبدال التقاليد الحالية، بل إلى تطوير إمكانات التقاليد من خلال الابتكار في الفن والتصميم بحيث تظل ذات صلة باحتياجات المجتمع وتنمية الاقتصاد الإبداعي". نشرة، إس تي، ماجستير، رئيس فريق تنفيذ PISN في كلمته في افتتاح نشاط PKM PISN.

Mengembangkan Tradisi melalui Inovasi Desain

Salah satu fokus utama program adalah meningkatkan kemampuan pengrajin dalam mengembangkan desain dan kualitas produk. Pengrajin tidak hanya diajak mempertahankan teknik anyaman yang telah dikuasai, tetapi juga melakukan eksplorasi terhadap bentuk, fungsi, komposisi, estetika, material, hingga teknik finishing.
Proses pengembangan dilakukan secara bertahap, mulai dari eksplorasi ide, penyusunan desain, pembuatan prototipe, evaluasi, hingga penyempurnaan produk. Pendekatan tersebut membuka peluang bagi serat daun lontar untuk dikembangkan menjadi produk dengan fungsi dan bentuk yang lebih beragam tanpa kehilangan karakter lokalnya. Dengan demikian, inovasi tidak ditempatkan sebagai upaya meninggalkan tradisi, tetapi sebagai strategi untuk memperkuat keberlanjutan tradisi melalui kreativitas.
“Kami ingin produk anyaman lontar tetap memiliki ciri khas Sawakong, tetapi desainnya bisa lebih berkembang. Kami juga ingin anak-anak muda melihat bahwa menganyam bukan hanya pekerjaan orang tua, tetapi bisa menjadi kegiatan kreatif dan memiliki nilai ekonomi,” ujar Fatmawati, Ketua Komunitas Pengrajin Anyaman Karya Insani, selaku mitra sasaran.

Perempuan dan Pemuda Menjadi Bagian Penting

Penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Para pengrajin perempuan yang selama ini menjadi penjaga keterampilan menganyam memiliki peran strategis dalam proses transfer pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Melalui pelatihan intergenerasi, pengrajin senior dan generasi muda dipertemukan dalam proses pembelajaran bersama. Pengrajin senior berbagi pengalaman mengenai bahan, teknik, pola, dan pengetahuan tradisional. Sementara generasi muda memperoleh ruang untuk mengembangkan kreativitas melalui desain, teknologi, dokumentasi, dan media digital. Model tersebut diharapkan dapat membangun hubungan dua arah antara pengetahuan tradisional dan kreativitas generasi baru.
Selain memperkuat regenerasi, pendekatan ini juga membuka ruang yang lebih besar bagi perempuan dan pemuda untuk berperan dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Dari Pasar Lokal Menuju Pemasaran Digital

Persoalan pemasaran menjadi tantangan lain yang dihadapi komunitas pengrajin. Produk selama ini masih banyak dipasarkan melalui penjualan langsung di sekitar desa atau berdasarkan pesanan secara individual. Kondisi tersebut menyebabkan jangkauan pasar relatif terbatas. Karena itu, program PISN juga memberikan perhatian pada pengembangan branding dan pemasaran digital.
Produk hasil pengembangan didokumentasikan secara visual untuk kemudian dimanfaatkan dalam katalog digital dan media promosi komunitas. Pengrajin juga diperkenalkan dengan pemanfaatan media sosial sebagai sarana untuk memperkenalkan produk dan membangun identitas komunitas. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan kemampuan komunitas dalam mengelola komunikasi produk secara mandiri.
“Kami berharap setelah kegiatan ini, masyarakat tidak hanya mampu membuat produk, tetapi juga mampu memperkenalkan dan memasarkan produknya sendiri. Dengan begitu, manfaat kegiatan dapat terus berjalan setelah program selesai,” kata Dr. Ir. Nashrah, S.T., M.Si.

Membangun Ekosistem Ekonomi Kreatif Berbasis Komunitas

Program PISN tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan produk baru. Lebih jauh, kegiatan ini dirancang untuk membangun ekosistem seni kriya berbasis komunitas melalui penguatan kapasitas pengrajin, regenerasi pelaku seni, pengembangan desain, pembuatan prototipe, dokumentasi, promosi, dan penguatan jejaring.
Sejumlah luaran yang dikembangkan dalam program antara lain prototipe produk seni kriya inovatif berbasis serat daun lontar, kelompok belajar lintas generasi, dokumentasi digital, serta media promosi komunitas. Kegiatan pameran atau festival seni kriya juga menjadi bagian penting untuk mempertemukan karya pengrajin dengan masyarakat sekaligus membangun apresiasi terhadap seni tradisi lokal. Melalui pendekatan tersebut, komunitas pengrajin diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi menjadi subjek utama dalam proses penciptaan, pengembangan, dan keberlanjutan seni kriya.

Menjaga Akar, Membuka Masa Depan

Bagi masyarakat Sawakong, anyaman serat daun lontar bukan sekadar produk. Di dalamnya terdapat pengetahuan lokal, keterampilan perempuan, identitas budaya, serta pengalaman yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menghasilkan produk yang lebih modern, tetapi bagaimana memastikan agar pengetahuan dan keterampilan tersebut tetap hidup.
Program PISN mencoba menjawab tantangan tersebut dengan mempertemukan tradisi, seni, desain, teknologi, generasi muda, dan ekonomi kreatif dalam satu ekosistem berbasis komunitas.
Dari Desa Sawakong, serat daun lontar mendapatkan ruang baru untuk berkembang. Bukan dengan meninggalkan akar tradisinya, tetapi dengan memberikan kesempatan kepada tradisi tersebut untuk berinovasi, beradaptasi, dan memiliki nilai tambah bagi masyarakat yang menjaganya. Sebab, melestarikan budaya tidak selalu berarti mempertahankannya dalam bentuk yang sama. Melestarikan budaya juga berarti memastikan bahwa generasi berikutnya masih memiliki alasan untuk mencintai, mempelajari, mengembangkan, dan meneruskannya.
يشارك:
اقرأ أيضا

أخبار ذات صلة

DARI SAWAH KE MEJA MAKAN, UMI DORONG INOVASI PANGAN LOKAL UNTUK CEGAH STUNTING DI DESA A’BULOSIBATANG MAROS
📅 ٢١ أغسطس ٢٠٢٦ 👁 10

من الحقول إلى مائدة الطعام، UMI تشجع الابتكار الغذائي المحلي لمنع التقزم في قرية أبولوسيباتانغ ماروس

تواصل الجامعة الإسلامية الإندونيسية (UMI) تعزيز دور الجامعات في تمكين المجتمعات من خلال الابتكار القائم على الإمكانات المحلية. من خلال برنامج التمكين…

أكثر →
Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat KEMENDIKTISAINTEK : Kolaborasi Lintas Disiplin Ilmu Hadirkan Solusi Desalinasi Sederhana Air Payau Menjadi Air Tawar Wujudkan Kemandirian Akses Air Bersih Masyarakat Desa Punaga
📅 ٢١ أغسطس ٢٠٢٦ 👁 14

تمكين الشراكات المجتمعية KEMENDICTISAINTEK: التعاون عبر التخصصات العلمية يقدم حلاً بسيطًا لتحلية المياه قليلة الملوحة وتحويلها إلى مياه عذبة لتحقيق الاستقلال في الحصول على المياه النظيفة لمجتمع قرية بوناجا

تاكالار — يتواصل بذل الجهود لزيادة توافر المياه العذبة للمجتمعات في المناطق الساحلية من خلال التعاون عبر التخصصات العلمية و...

أكثر →