lpkm@umi.ac.id ماكاسار، جنوب سولاويزي
LPkM UMI — Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat
الصفحة الرئيسية / أخبار / من البرك والساحات، يقوم سكان Libureng ببناء فرص جديدة مع طلاب UMI
Dari Tambak dan Pekarangan, Warga Libureng Bangun Peluang Baru Bersama Mahasiswa UMI

من البرك والساحات، يقوم سكان Libureng ببناء فرص جديدة مع طلاب UMI

BONE– Udang dari tambak dan tanaman obat yang tumbuh di pekarangan menjadi titik awal sebuah gerakan pemberdayaan di Desa Libureng, Kecamatan Tonra, Kabupaten Bone. Bersama dosen dan mahasiswa, masyarakat setempat mulai mengembangkan dua potensi tersebut menjadi produk yang tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai usaha berbasis desa.
Inisiatif tersebut diwujudkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat oleh Mahasiswa yang dilaksanakan pada 5 Juni – 3 Agustus 2026. Program ini mendapat dukungan pendanaan dari DPPM Kemdiktisaintek Tahun 2026 pada Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Ruang Lingkup Pemberdayaan Oleh Mahasiswa.
Mengusung kegiatan berjudul “Optimalisasi Potensi Desa Libureng melalui Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa dalam Upaya Peningkatan Kesehatan melalui Diversifikasi Udang dan TOGA menjadi Produk Pangan Sehat dan Herbal”, program dirancang dengan menempatkan warga sebagai pelaku utama yang melibatkan dua kelompok masyarakat dengan kebutuhan yeng berbeda yaitu kelompok nelayan dan kelompok PKK. Kegiatan tidak berhenti pada penyuluhan, tetapi membawa masyarakat masuk ke tahap praktik, pengembangan produk, pengemasan, hingga penguatan kelompok usaha.
Tim pengabdian diketuai oleh apt. A. Hasrawati, S.Farm., M.Si. dari Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia UMI, dengan anggota pelaksana apt. Vina Purnamasari M, S.Farm., M.Sc. dari Fakultas Farmasi UMI dan Erwing, S.Pd., M.Pd dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Bone. Sebanyak 20 mahasiswa dari Program Studi Ilmu Farmasi, Ilmu Kelautan, dan Teknik Informatika turut terlibat dalam rangkaian kegiatan.

Membuka Nilai Baru dari Hasil Tambak

Bagi sebagian masyarakat Libureng, udang merupakan komoditas yang telah lama dekat dengan aktivitas ekonomi mereka. Namun, peluang untuk meningkatkan nilai hasil tambak tidak hanya berada pada jumlah panen, tetapi juga pada kualitas dan cara mengelola udang setelah dipanen.
Atas dasar itu, kelompok nelayan mendapat penguatan pengetahuan mengenai pemeliharaan udang yang mendukung kualitas dan kuantitas produksi. Pembelajaran kemudian berlanjut pada penanganan hasil panen dan pengenalan alternatif pengolahan agar udang tidak hanya bergantung pada pola penjualan dalam kondisi segar.
Dalam sesi praktik, nelayan bersama tim dan mahasiswa mengembangkan udang menjadi abon udang tinggi protein tanpa bahan pengawet dan udang frozen. Peserta juga dikenalkan dengan proses pengemasan sebagai bagian penting dalam menyiapkan produk yang lebih baik dan memiliki peluang untuk dipasarkan.
Bagi Sultan, salah seorang anggota kelompok nelayan, kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda karena masyarakat dapat langsung mempraktikkan materi yang diperoleh.
“Kami mendapat pengetahuan baru, mulai dari bagaimana memperhatikan kualitas udang sampai cara mengolah hasil panen. Praktik langsung sangat membantu karena kami bisa melihat dan mencoba sendiri prosesnya. Ini menjadi pengalaman yang bisa kami gunakan kembali setelah kegiatan selesai,” ungkap Sultan.

Pekarangan Rumah Menjadi Ruang Belajar Kesehatan

Jika kelompok nelayan bertumpu pada hasil tambak, ibu-ibu PKK diajak melihat kembali potensi yang justru berada sangat dekat dengan kehidupan keluarga, yakni tanaman obat di sekitar rumah.
Kegiatan bersama kelompok PKK dimulai dengan pengenalan fungsi Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan cara pemanfaatannya secara tepat. Warga juga terlibat dalam pengembangan kebun TOGA sebagai sarana untuk mendorong pemanfaatan tanaman obat di lingkungan masyarakat.
Dari kebun dan pekarangan tersebut, pembelajaran bergerak ke tahap pengolahan. Ibu-ibu PKK mengikuti praktik pembuatan teh herbal, jamu serbuk siap seduh, lulur kaya manfaat, serta sabun herbal.
Kegiatan ini memberi perspektif baru bahwa tanaman obat tidak hanya dapat ditanam dan digunakan secara sederhana, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih praktis dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan dan keamanan.
Hal tersebut dirasakan oleh Ilma Prasetia, perwakilan kelompok PKK Desa Libureng.
“Dulu kami lebih banyak mengenal tanaman obat dari manfaatnya secara umum. Setelah mengikuti kegiatan ini, kami belajar bagaimana mengolahnya menjadi beberapa produk yang bisa dibuat kembali. Bagi kami, keterampilan seperti ini bermanfaat karena bahan yang digunakan juga dekat dengan kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Mahasiswa Belajar Bersama Masyarakat

Program di Desa Libureng sekaligus menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa. Sebanyak 20 mahasiswa dengan latar belakang Ilmu Farmasi, Ilmu Kelautan, dan Teknik
Informatika bekerja dalam satu kegiatan dengan membawa perspektif keilmuan yang berbeda.
Mahasiswa bidang farmasi dapat mengaplikasikan pengetahuan yang berkaitan dengan bahan herbal, kesehatan, dan pengembangan produk. Perspektif ilmu kelautan beririsan dengan pemanfaatan komoditas tambak dan hasil perikanan, sementara bidang teknik informatika memiliki ruang kontribusi pada pemanfaatan teknologi informasi, dokumentasi, dan dukungan promosi produk.
Pertemuan berbagai disiplin tersebut membuat kegiatan pengabdian tidak berjalan satu arah. Mahasiswa belajar memahami kondisi dan kebutuhan masyarakat, sedangkan masyarakat memperoleh kesempatan berinteraksi langsung dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibawa dari lingkungan perguruan tinggi.
Ketua tim, A. Hasrawati, menilai proses tersebut menjadi bagian penting dari tujuan Pengabdian kepada Masyarakat oleh Mahasiswa.
“Kami ingin mahasiswa hadir bukan sekadar menjalankan kegiatan, tetapi belajar bekerja bersama masyarakat. Ketika ilmu dari kampus bertemu dengan pengalaman dan potensi yang dimiliki warga, di situlah proses pemberdayaan menjadi lebih bermakna,” ujarnya.

Kolaborasi Lintas Keilmuan Perkuat Pemberdayaan

Keterlibatan berbagai disiplin ilmu dalam program di Desa Libureng menjadi salah satu kekuatan dalam proses pendampingan masyarakat. Persoalan yang dihadapi mitra tidak dipandang dari satu aspek saja, tetapi didekati melalui perpaduan pengetahuan mengenai kesehatan, pengelolaan sumber daya perikanan, teknologi, hingga pengembangan produk.
Anggota tim pelaksana dari Universitas Muhammadiyah Bone, Erwing, menilai kolaborasi lintas perguruan tinggi dan bidang keilmuan memberikan kesempatan untuk menghadirkan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Setiap desa memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda. Di Libureng, kami melihat hasil tambak, TOGA, dan sumber daya masyarakat sebagai kekuatan yang dapat dikembangkan secara bersamaan. Karena itu, kolaborasi berbagai bidang ilmu menjadi penting agar pendampingan tidak hanya melihat bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mengelola, memperkenalkan, dan mengembangkan potensi tersebut secara berkelanjutan,” ujar
Erwing.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dari beberapa program studi juga memberikan nilai tambah karena mereka belajar melihat persoalan masyarakat dari perspektif yang lebih luas.
“Mahasiswa belajar bahwa persoalan di masyarakat tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan satu bidang ilmu. Mereka harus berdiskusi, bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan masyarakat, dan menyesuaikan pengetahuan yang dimiliki dengan kondisi di lapangan. Pengalaman seperti ini menjadi bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa,” tambahnya.
Kolaborasi antara Universitas Muslim Indonesia dan Universitas Muhammadiyah Bone dalam kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kompetensi antarperguruan tinggi. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat kualitas pendampingan sekaligus menghasilkan model pemberdayaan yang lebih responsif terhadap potensi dan kebutuhan masyarakat.

Dari Pelatihan Menuju Usaha Bersama

Tantangan berikutnya adalah memastikan keterampilan yang diperoleh tidak berhenti ketika tim meninggalkan lokasi. Karena itu, tahapan program juga diarahkan pada pembentukan sistem yang memungkinkan masyarakat melanjutkan aktivitas secara bersama.
Masyarakat didampingi dalam penguatan manajemen, pembagian peran, pengemasan dan pelabelan produk, serta persiapan pemasaran. Dari proses tersebut, dibentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai wadah untuk mengorganisasi pengembangan produk berbasis potensi Desa Libureng.
Arham, perwakilan kelompok nelayan, melihat keberadaan kelompok usaha sebagai kesempatan untuk mengubah pola pengelolaan hasil tambak yang sebelumnya lebih banyak dilakukan secara konvensional.
“Kami sekarang tidak hanya memikirkan bagaimana menghasilkan udang dari tambak. Ada pengetahuan baru tentang bagaimana hasil itu dapat diolah dan kemudian dikelola bersama. Harapan kami, KUB ini bisa menjadi tempat untuk melanjutkan apa yang sudah dipelajari dan membuat usaha kelompok semakin berkembang,” kata Arham.
Fasilitas pengemasan turut disiapkan untuk mendukung proses tersebut. Pendampingan terhadap kemasan dan label menjadi langkah berikutnya agar produk masyarakat memiliki identitas yang lebih jelas dan secara bertahap memiliki kesiapan untuk masuk ke pasar.

Mengupayakan Dampak yang Bertahan Setelah Program Berakhir

Bagi tim pengabdian, keberhasilan kegiatan bukan hanya terletak pada jumlah pelatihan atau banyaknya produk yang berhasil dibuat selama program berlangsung. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana pengetahuan, keterampilan, dan kelembagaan yang telah dibangun dapat dilanjutkan oleh masyarakat.
Anggota tim pelaksana, Vina Purnamasari M., menyebut keberlanjutan menjadi salah satu perhatian dalam proses pendampingan.
“Produk merupakan salah satu hasil yang terlihat, tetapi tujuan yang lebih besar adalah tumbuhnya kemampuan masyarakat untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Ketika masyarakat mampu memproduksi kembali, mengelola kelompok, memperbaiki kemasan, dan mulai membangun pasar, maka proses pemberdayaan memiliki peluang untuk terus berjalan,” jelasnya.
Karena itu, pengembangan udang dan TOGA ditempatkan sebagai pintu masuk untuk membangun kapasitas masyarakat. Hasil tambak memberikan peluang pada sektor pangan, sedangkan TOGA membuka ruang pemanfaatan sumber daya pekarangan untuk kesehatan dan pengembangan produk herbal.
Tim pelaksana menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia yang telah memberikan dukungan pendanaan melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Ruang Lingkup Pemberdayaan Oleh Mahasiswa Tahun 2026.
Apresiasi juga disampaikan kepada Universitas Muslim Indonesia melalui Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPkM) UMI, Universitas Muhammadiyah Bone, Pemerintah Desa Libureng, kelompok nelayan, ibu-ibu PKK, serta seluruh mahasiswa dan masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan program.
Dari tambak udang hingga pekarangan TOGA, program ini menunjukkan bahwa inovasi ditingkat desa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang baru. Potensi yang telah lama berada di tengah masyarakat dapat memperoleh nilai baru ketika dipertemukan dengan pengetahuan, keterampilan, pengorganisasian, dan kemauan untuk berkembang bersama.
Bagi UMI, kegiatan di Desa Libureng sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam membawa tridarma lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat—menjadikan kampus tidak hanya sebagai ruang menghasilkan pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra dalam mendorong kemandirian dan keberlanjutan pembangunan di tingkat desa.
يشارك:
اقرأ أيضا

أخبار ذات صلة

UMI Perkuat Ketahanan Psikososial Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus melalui Skrining, Edukasi, dan Inovasi Digital
📅 ١٨ أغسطس ٢٠٢٦ 👁 12

UMI تعزز المرونة النفسية والاجتماعية لأولياء أمور الأطفال ذوي الاحتياجات الخاصة من خلال الفحص والتعليم والابتكار الرقمي

ماكاسار، أغسطس 2026 — الجامعة الإسلامية الإندونيسية (UMI) من خلال أنشطة خدمة المجتمع (PKM) مع منتدى الأسرة الإندونيسي الخاص (Forkesi)...

أكثر →