lpkm@umi.ac.id ماكاسار، جنوب سولاويزي
LPkM UMI — Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat
الصفحة الرئيسية / أخبار / تمكين مجموعات مزارعي البلطي: تحقيق الابتكار وريادة الأعمال المائية الرقمية
Pemberdayaan Kelompok Pembudidaya Ikan Nila: Mewujudkan  Aquapreneurship Berbasis Inovasi dan Digital

تمكين مجموعات مزارعي البلطي: تحقيق الابتكار وريادة الأعمال المائية الرقمية

Di Kelurahan Lanna, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, banyak dijumpai kolam-kolam budidaya ikan nila membentang di lahan masyarakat. Dari kawasan yang berjarak sekitar 44 kilometer dari Makassar itu, sebagian besar warga menggantungkan penghidupan pada usaha perikanan air tawar. Namun, keuntungan yang diperoleh belum sebanding dengan biaya yang
harus mereka keluarkan.
Persoalan terbesar datang dari harga pakan. Sekitar 65–70 persen biaya produksi habis untuk membeli pelet pabrikan. Ketika harga pakan naik, keuntungan pembudidaya menyusut. Pertumbuhan ikan juga kerap tidak optimal sehingga masa pemeliharaan menjadi lebih panjang, sementara bobot panen belum memenuhi harapan pasar.
Masalah lain muncul pada tata kelola usaha. Di tingkat rumah tangga, hasil panen yang dijual sering bercampur dengan ikan untuk konsumsi keluarga. Pencatatan keuangan hampir tidak dilakukan. Penentuan harga jual pun lebih banyak berdasarkan kebiasaan daripada perhitungan biaya produksi. Akibatnya, banyak pelaku usaha tidak mengetahui secara pasti besaran
keuntungan yang diperoleh.
Kondisi tersebut mendorong tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menjalankan program pemberdayaan berbasis aquapreneurship, melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Masyarakat Oleh Mahasiswa (PKM-PMM). Program ini dipimpin Prof. Dr. Kasnaeny Karim, S.E., M.Si. bersama Dr.
Tenriwaru, S.E., M.Si. Ak. CA dari UMI dan Dr. Andi Liswahyuni, S.Pi. M.Si dari Universitas Muhammadiyah Sinjai. Tim lintas disiplin yang terdiri atas bidang manajemen, akuntansi, dan perikanan melibatkan 20 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk mendampingi masyarakat.
Pendampingan dilakukan bukan hanya meningkatkan keterampilan teknis budidaya, tetapi juga mengubah pola usaha masyarakat dari sekadar menjual hasil panen menjadi mengolah dan memasarkan produk yang memiliki nilai tambah.
Salah satu intervensi utama adalah pengembangan pakan alternatif berbahan ampas ikan nila (tulang, kepala, sirip, ekor, jerohan dan sisa ikan yang sisa dan tidak dikonsumsi atau ikan yang rusak akibat penangkapan yang salah), dicampur dengan vitamin. Pelet berukuran 2–3 milimeter dengan kandungan protein itu mampu menekan biaya pakan hingga sekitar 30 persen
dibandingkan penggunaan pelet komersial. Produk pelet ikan ini diberi merk “Eco Fish “.
Dosen pendamping bersama mahasiswa juga mengajarkan cara melakukan inovasi produk, dengan membuat kue/cake brownis berbahan baku ikan Nila, yang juga diberi merk “Brownila”. Hal ini bertujuan agar ibu rumah tangga dapat memulai berwirausaha sebagai implementasi dari materi kewirausahaan yang telah diajarkan. Selain itu produk brownila juga ditujukan sebagai camilan bagi anak-anak yang tidak suka mengkonsumsi ikan, agar tumbuh kembang dan gizi anak cukup.
Pada kegiatan ini juga memperkenalkan mesin penebar pakan mekanis agar distribusi pakan lebih merata dan efisien kepada petambak Nila. Tujuannya agar meskipun petambak atau nelayan tidak berada dilokasi tambak ikan, asupan makanan untuk ikan nila di tambak dan di kolam tetap rutin diberikan melalui mesin ini.
Perubahan juga dilakukan pada aspek manajemen usaha. Warga mulai memisahkan kolam pembesaran dengan kolam penampungan ikan siap jual sehingga proses produksi lebih tertata.
Kelompok perempuan dan Majelis Taklim memperoleh pelatihan pencatatan keuangan menggunakan Google Sheets untuk menghitung harga pokok penjualan berdasarkan bobot ikan dan biaya produksi yang sebenarnya.
Di bidang pemasaran, peserta dari majelis taklim didorong memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Mereka belajar membuat konten digital dan memperluas akses pasar sehingga penjualan tidak lagi bergantung pada pembeli di sekitar desa.
Program tersebut dirancang agar tetap berjalan setelah kegiatan KKN berakhir. Untuk menjaga keberlanjutan, dibentuk wadah koordinasi antara masyarakat, pemerintah kelurahan, dan pendamping. Kelompok ini diharapkan menjadi ruang berbagi pengetahuan, memantau perkembangan usaha, serta memperkuat jejaring pemasaran.
Kelurahan Lanna yang memiliki status desa berkembang dengan Indeks Desa Membangun (IDM) 0,582 dipandang memiliki potensi besar untuk mengembangkan usaha perikanan berbasis kewirausahaan. Melalui penguatan teknologi budidaya, tata kelola usaha, dan pemasaran digital, program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperbaiki pendapatan rumah tangga pembudidaya, serta mendorong lahirnya pelaku usaha perikanan yang lebih mandiri.
يشارك:
اقرأ أيضا

أخبار ذات صلة

UMI Perkuat Ketahanan Psikososial Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus melalui Skrining, Edukasi, dan Inovasi Digital
📅 ١٨ أغسطس ٢٠٢٦ 👁 12

UMI تعزز المرونة النفسية والاجتماعية لأولياء أمور الأطفال ذوي الاحتياجات الخاصة من خلال الفحص والتعليم والابتكار الرقمي

ماكاسار، أغسطس 2026 — الجامعة الإسلامية الإندونيسية (UMI) من خلال أنشطة خدمة المجتمع (PKM) مع منتدى الأسرة الإندونيسي الخاص (Forkesi)...

أكثر →