lpkm@umi.ac.id Makassar, South Sulawesi
LPkM UMI — Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat
Home page / News / UMI Strengthens Psychosocial Resilience of Parents of Children with Special Needs through Screening, Education and Digital Innovation
UMI Perkuat Ketahanan Psikososial Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus melalui Skrining, Edukasi, dan Inovasi Digital

UMI Strengthens Psychosocial Resilience of Parents of Children with Special Needs through Screening, Education and Digital Innovation

Makassar, Agustus 2026 — Universitas Muslim Indonesia (UMI) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bersama Forum Keluarga Spesial Indonesia (Forkesi) Makassar melaksanakan program penguatan ketahanan psikososial dan literasi kesehatan mental bagi orang tua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Program yang merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat ini mengintegrasikan skrining kesehatan mental, edukasi, pendampingan psikososial, serta pengembangan teknologi digital melalui aplikasi dan website “Sahabat Pena”. Kegiatan dilaksanakan oleh tim UMI yang diketuai dr. Rezky Putri Indarwati Abdullah, M.Kes., FISPH., FISCM., bersama Dr. Ramdan Satra, S.Kom., M.Kom. dan dr. Muhammad Alim Jaya, MARS., Ph.D., Sp.KJ., dengan Forkesi Makassar sebagai mitra sasaran.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) koordinasi bersama Forkesi Makassar pada 15 Mei 2026. Selanjutnya, pada 6 Juli 2026 dilaksanakan edukasi peningkatan literasi kesehatan mental bagi orang tua ABK di Sentra Wirajaya Makassar. Materi edukasi mencakup stres pengasuhan, tanda-tanda gangguan psikososial, serta strategi koping adaptif.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti edukasi. Dari 33 peserta, rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 15,55 menjadi 18,70 dari skor maksimal 20 atau meningkat sekitar 20,3 persen. Sebanyak 31 peserta atau 93,9 persen mengalami peningkatan skor.
Tahap berikutnya adalah skrining kesehatan mental yang dilaksanakan pada 7 Juli 2026 dengan menggunakan instrumen SRQ-29. Sebanyak 33 orang tua ABK mengikuti skrining tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa 14 orang atau 46,7 persen teridentifikasi mengalami indikasi gangguan kesehatan mental dan memerlukan tindak lanjut pendampingan, sementara 16 peserta lainnya berada pada kategori risiko rendah.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar pelaksanaan pendampingan kesehatan mental pada 1 Agustus 2026 di Ruang Senat Prof. dr. Chairuddin Lakare, Fakultas Kedokteran UMI. Pendampingan diberikan kepada 14 orang tua yang terjaring melalui skrining. Kegiatan diawali dengan peer mentor, yaitu dukungan sebaya antar orang tua ABK, kemudian dilanjutkan dengan konsultasi privat satu lawan satu bersama dokter spesialis jiwa untuk memperoleh penilaian dan penanganan secara individual.
Evaluasi awal pendampingan menunjukkan hasil yang positif. Dari tiga contoh peserta yang dievaluasi, dua peserta menunjukkan perbaikan hingga tidak lagi terindikasi mengalami gangguan, sedangkan satu peserta dengan kondisi awal yang lebih kompleks menunjukkan penurunan jumlah dan keparahan indikasi gangguan. Hasil tersebut menjadi indikasi awal yang positif terhadap pendekatan pendampingan yang mengombinasikan dukungan sebaya dengan konsultasi klinis privat.
Selain intervensi langsung, program ini juga menghadirkan inovasi digital berupa aplikasi dan website “Sahabat Pena”. Platform tersebut dikembangkan untuk mendukung skrining dan edukasi kesehatan mental orang tua ABK. Website memuat formulir data orang tua/wali, instrumen skrining SRQ-29, materi edukasi kesehatan mental, pencatatan hasil skrining, serta rekomendasi tindak lanjut. Versi Android juga telah selesai dikembangkan dan berfungsi, sementara proses publikasinya di Google Play Store masih menunggu persetujuan resmi.
Penerapan teknologi tersebut telah digunakan dalam kegiatan skrining terhadap 33 orang tua ABK. Dengan adanya sistem skrining berbasis instrumen terstandar, program berhasil mengidentifikasi kondisi kesehatan mental yang sebelumnya belum terdeteksi maupun tertangani secara sistematis oleh mitra. Hasil skrining kemudian menjadi dasar untuk memberikan pendampingan lanjutan secara berjenjang.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, pada 1 Agustus 2026 juga dilakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) aset kegiatan PKM kepada Forkesi Makassar. Penyerahan tersebut diharapkan memastikan produk teknologi dan sarana pendukung yang dihasilkan selama program dapat terus dimanfaatkan secara mandiri oleh Forkesi Makassar setelah masa kontrak pengabdian berakhir.
Ketua tim pelaksana, dr. Rezky Putri Indarwati Abdullah, M.Kes., FISPH., FISCM., bersama anggota tim dan Forkesi Makassar selanjutnya akan melanjutkan tahapan program melalui monitoring dan evaluasi keberlanjutan, penyelesaian proses publikasi aplikasi di Google Play Store, serta pendampingan lanjutan bagi peserta yang masih membutuhkan tindak lanjut. Program juga diarahkan untuk memastikan aplikasi dan website “Sahabat Pena” dapat terus dimanfaatkan oleh komunitas.
Melalui integrasi edukasi, skrining, pendampingan psikososial, dukungan sebaya, konsultasi klinis, dan teknologi digital, kegiatan ini menjadi upaya UMI bersama Forkesi Makassar dalam memperkuat literasi serta ketahanan psikososial orang tua Anak Berkebutuhan Khusus secara berkelanjutan.
Share:
Also Read

Related News