Penyuluhan, Pelatihan, dan Pendampingan Tekonologi Pembuatan Pupuk Bokasi dan Pestisida Nabati Bagi Kelompok Tani Kentang di Kabupaten Gowa

Penyuluhan, Pelatihan, dan Pendampingan Tekonologi Pembuatan Pupuk Bokasi dan Pestisida Nabati Bagi Kelompok Tani Kentang di Kabupaten Gowa

Dosen UMI Latih Petani Malino Membuat Pupuk Organik Bokasi dan Pestisida Nabati

Tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) melaksanakan kegiatan penyuluhan, sosialisasi, dan pelatihan pembuatan Bokashi dan pestisida nabati bagi kelompok tani hortikultura di Malino. Program ini bertujuan membantu petani meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan lahan, khususnya menghadapi kelangkaan pupuk serta meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Kegiatan berlangsung di Desa Patappang, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa, sekitar 90 kilometer dari Kota Makassar.

Kegiatan dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Sudirman Numba, MS., dosen Fakultas Pertanian dan Bioremediasi Lahan Tambang UMI, bersama dosen senior lainnya: Dr. Ir. Iskandar Hasan, M.Sc. seorang pakar agribisnis. Tim ini juga melibatkan sejumlah mahasiswa yang sedang menyelesaikan program studi mereka. Pelatihan disambut antusias oleh kelompok tani yang berada di bawah koordinasi Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Bulu Ballea Malino, yang diketuai oleh Arifuddin Sila, SP, alumnus Fakultas Pertanian UMI.

Menurut penjelasan tim, pemilihan petani hortikultura sebagai sasaran kegiatan bukan tanpa alasan. Banyak petani mengeluhkan kelangkaan pupuk bersubsidi pada saat musim pemupukan, sehingga mereka terpaksa membeli pupuk nonsubsidi dengan harga jauh lebih tinggi. Di sisi lain, serangan penyakit tanaman, terutama pada tanaman kentang, menyebabkan kerugian signifikan dan gagal panen.

Melalui kegiatan ini, tim dosen UMI memperkenalkan Bokashi sebagai alternatif pupuk organik padat yang mudah dibuat dari bahan lokal seperti kotoran ternak, jerami, dedak, atau limbah organik lainnya. Bokashi memiliki banyak manfaat, antara lain memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroba, serta membantu menyediakan unsur hara esensial bagi tanaman. Selain itu, pelatihan juga mencakup pembuatan pestisida nabati berbahan dasar tanaman seperti daun pepaya, serai wangi, bawang putih, dan daun sirsak yang berfungsi menekan serangan hama dan penyakit secara ramah lingkungan.

Prof. Dr. Sudirman Numba menegaskan bahwa masih banyak potensi sumber daya lokal yang dapat dimanfaatkan petani namun belum dikelola secara optimal. “Bokashi dan pestisida nabati adalah inovasi sederhana yang bisa dibuat sendiri oleh petani dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar mereka. Selain mengurangi biaya produksi, teknologi ini juga menjaga keseimbangan ekosistem,” jelasnya.

Pelatihan tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga dilengkapi praktik langsung di lahan petani, mulai dari proses fermentasi Bokashi, peracikan bahan pestisida nabati, hingga teknik aplikasi yang tepat. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan petani dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) serta manajemen pengelolaan tanaman yang baik.

Meski sebagian besar petani masih terbiasa menggunakan pupuk dan pestisida kimia karena efeknya yang cepat terlihat, melalui penyuluhan ini mereka mulai memahami bahwa penggunaan bahan kimia secara berlebihan dapat meningkatkan biaya produksi, merusak ekologi, serta menimbulkan residu berbahaya bagi kesehatan manusia. Diharapkan ke depan, petani semakin terdorong mengurangi penggunaan input kimia dan beralih pada teknologi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sebagai institusi Pendidikan dan Dakwah, UMI menempatkan kegiatan pengabdian masyarakat sebagai salah satu pilar penting untuk mewujudkan visi Kampus Berdampak. Keterlibatan dosen dan mahasiswa secara langsung di tengah masyarakat menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga agen perubahan yang membantu menyelesaikan persoalan riil masyarakat. Melalui transfer teknologi tepat guna, UMI berupaya memastikan bahwa kehadiran perguruan tinggi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Kegiatan pengabdian yang berorientasi pada masalah pertanian ini menjadi contoh konkret bagaimana UMI membangun sinergi dengan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian petani. Implementasi teknologi ramah lingkungan seperti Bokashi dan pestisida nabati tidak hanya memperkuat ketahanan pangan lokal, tetapi juga mendukung praktik pertanian berkelanjutan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Dengan demikian, UMI tidak hanya menjalankan tridharma perguruan tinggi, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk menumbuhkan masyarakat yang lebih berdaya.

Lebih jauh lagi, program pengabdian seperti ini memperkuat reputasi UMI sebagai institusi yang konsisten menghadirkan dampak nyata. Keaktifan dosen di lapangan dan keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran berbasis pengalaman menegaskan bahwa UMI adalah kampus yang tidak berhenti pada tataran teori. Melalui kegiatan yang terstruktur, relevan, dan memberi manfaat langsung, UMI terus menegaskan posisi sebagai Kampus Berdampak yang berkontribusi secara berkelanjutan bagi pembangunan masyarakat.

Previous Edukasi Literasi Digital Kesehatan sebagai upaya mencegah self diagnos di SMA Insan Cendekia Syech yusuf, pattalassang, Kabupaten Gowa
Next Optimalisasi Pengajaran Guru Berbasis Literasi Digital Dalam Menciptakan Generasi ASIK (Aktif, Sehat, Inovatif, Kritis) Di SDN 21 Sanggalea, Kab. Maros

About author

You might also like

Informasi

Edukasi Inklusif Kesehatan Gigi : Pendekatan Quantum Learning Melalui My’dentde Project Bagi Anak Tuna Grahita

Tingginya angka karies gigi di Indonesia, termasuk pada anak berkebutuhan khusus, menjadi tantangan besar dalam bidang kesehatan gigi. Anak tuna grahita, sebagai kelompok istimewa, membutuhkan pendekatan pembelajaran yang berbeda agar

Informasi

Dosen FK UMI Bangkitkan Kesadaran Masyarakat Pada Bahaya Obesitas dan Underweight

Tingginya angka kasus obesitas dan underweight tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat yang cukup untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap status gizi mereka. Banyak masyarakat yang menganggap obesitas dan underweight sebagai hal