Implementasi Art-based Intervention Berbasis Seni Macrame Dalam Penguatan Kesehatan Mental Remaja Di BP KNPI Malaysia
Kesehatan mental remaja kini menjadi isu penting yang mendapat perhatian luas, termasuk di Indonesia dan Malaysia. Laporan terkini menunjukkan adanya lonjakan kasus depresi, kecemasan, hingga perilaku menyakiti diri di kalangan Generasi Z sepanjang 2022–2024. Tekanan akademik, pengalaman perundungan, rasa kesepian, serta stigma sosial terhadap masalah kejiwaan menjadi faktor dominan yang memicu kondisi tersebut.

Menjawab tantangan ini, dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) melakukan kegiatan
pemberdayaan ini dengan dukungan pendanaan dari Universitas Muslim Indonesia melalui Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) UMI Skema PKM Internasional. Program ini mengkombinasikan terapi seni berbasis macrame dengan nilai-nilai dakwah Islam, menawarkan pendekatan holistik dalam mendukung kesehatan mental remaja.
“Edukasi formal saja tidak cukup. Remaja perlu ruang kreatif untuk menyalurkan emosi sekaligus memperoleh penguatan spiritual,” tutur Dr. Nur Ulmy Mahmud, SKM., M.Kes, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI.
Terapi berbasis seni (Art-Based Intervention) telah terbukti efektif dalam menurunkan stres, mengurangi kecemasan, serta meningkatkan kesadaran diri. Macrame dipilih karena sederhana, menyenangkan, sekaligus menenangkan. Proses menganyam dengan pola ritmis membantu melatih fokus, kesabaran, dan pengelolaan emosi.
Keunikan program ini terletak pada penyatuannya dengan dakwah. Seni tidak hanya dipandang sebagai ekspresi kreatif, tetapi juga sebagai sarana refleksi spiritual. Nilai sabar, ikhlas, dan syukur menjadi dasar, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Dengan demikian, seni bertransformasi menjadi jalan dzikir yang menumbuhkan ketenangan jiwa.
Kegiatan yang dipusatkan di BP KNPI Malaysia ini melibatkan puluhan remaja dan mendapat sambutan hangat. Para peserta aktif bertanya mengenai tanda-tanda awal gangguan mental yang mereka alami dan cara menghadapinya melalui pendekatan spiritual.
Menurut Dr. Nur Setiawati, S.Ag., M.Ag., Ph.D dari Fakultas Agama UMI, “Integrasi seni dan dakwah ini bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga tuntunan. Remaja menjadi lebih terbuka, merasa tenang, sekaligus memahami makna ibadah dalam keseharian.”
Hal senada disampaikan Dr. Muhammad Ikhtiar, SKM., M.Kes, yang menekankan pentingnya melihat kesehatan mental secara menyeluruh. “Masalah kejiwaan tidak hanya terkait aspek psikologis, tetapi juga erat kaitannya dengan kondisi sosial dan spiritual. Dengan pendekatan integratif, remaja tidak sekadar pulih, melainkan juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh,” jelasnya.
Program ini diharapkan mampu membantu remaja dalam mengelola stres dan kecemasan sekaligus memperkuat kedekatan mereka kepada Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mental, fisik, dan spiritual tidak dapat dipisahkan. Melalui pengabdian ini, UMI menegaskan komitmennya untuk mencetak generasi muda yang sehat mental, cerdas emosional, tangguh menghadapi tekanan hidup, serta kokoh dalam spiritualitas.
About author
You might also like
Pengembangan Media Terapi Motorik Halus Anak Autis Berbasis Simulasi Proses Produksi Mini di Sekolah Luar Biasa (SLB) Autis Bunda Kota Makassar
PkM Dosen UMI Hadirkan Inovasi Media Terapi Motorik Halus untuk Anak Autis di SLB Bunda Makassar Makassar, November 2025 – Tim dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menunjukkan kontribusi nyata
Tim Dosen PKM UMI Edukasi Pemanfaatan Limbah Kardus menjadi Produk Bernilai Ekonomis
Salah satu masalah lingkungan yang cukup signifikan yang perlu diperhatikan setelah limbah plastik adalah tumpukan limbah kardus. Padahal limbah kardus dapat diolah dan didaur ulang menjadi barang yang bermanfaat. Dibutuhkan
